Jakarta, ILLINI NEWS – Surplus perdagangan diperkirakan akan terus berlanjut pada November 2024. Namun surplus tersebut diperkirakan akan menurun karena tingginya harga bahan baku.
Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data dunia usaha Indonesia November 2024 pada Senin (16 Desember 2024).
Konsensus pasar yang dikumpulkan ILLINI NEWS dari 11 organisasi memperkirakan keuntungan bisnis akan mencapai $2,21 miliar pada November 2024.
Peningkatan ini lebih rendah dibandingkan Oktober 2024 yang mencapai $2,48 miliar.
Jika neraca perdagangan kembali surplus, maka Indonesia sudah mencatatkan surplus selama 55 bulan berturut-turut hingga Mei 2020. Surplusnya mengalir dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) hingga Prabowo Subianto.
Perjanjian tersebut juga menunjukkan bahwa ekspor akan tumbuh sebesar 6,07% (YoY) pada November 2024, sedangkan impor juga tumbuh sebesar 6,36% YoY pada November 2024. Pada Oktober 2024, ekspor luar negeri tumbuh sebesar 10,3% (year-on-year) dan impor meningkat sebesar 17% (joi). ).
Ekonom Bank Danamon Hosianna Situmorang memperkirakan surplus tersebut akan ditopang oleh harga minyak sawit mentah (CPO), emas, kopi, dan kakao.
“Kami memperkirakan kinerja bisnis akan terus berlanjut tergantung pada harga dan permintaan CPO, emas, kakao, dan kopi yang masih baik secara global. Jadi ini bandingkan penurunan ekspor batu bara dengan kelompok pertambangan bijih besi,” kata Hosanna kepada ILLINI NEWS.
Berdasarkan catatan Refinitiv, harga CPO sebenarnya mengalami kenaikan signifikan. Harga rata-rata CPO pada bulan November adalah RM4,904.05 per ton, naik 12,31% (bulan ke bulan/mtm) dan naik 27% (tahun ke tahun).
Sebaliknya, harga batu bara berada pada US$142,12 per ton, turun 3,25% (mtm). Sebagai informasi, batu bara menyumbang sekitar 15% ekspor, sedangkan CPO menyumbang sekitar 11% dari total ekspor Indonesia.
Penurunan ekspor batu bara disebabkan oleh penurunan permintaan dari mitra dagang utama, khususnya Tiongkok. Impor Tiongkok turun 3,9% (tahun ke tahun) di bulan November, lebih besar dari penurunan sebesar 2,3% di bulan Oktober. Menurunnya permintaan ekspor juga tercermin dari PMI Indonesia yang terus membaik.
Data Purchasing Managers’ Index (PMI) menunjukkan PMI manufaktur Indonesia mencapai 49,6 pada November 2024. Nilai tersebut sedikit lebih baik dibandingkan Oktober 2024 (49,2).
Data tersebut juga menunjukkan PMI manufaktur Indonesia mengalami kontraksi selama lima bulan berturut-turut yaitu Juli (49,3), Agustus (48,9), September (49,2), Oktober (49,2) dan November 2024 (49,2).
S&P menyebut koreksi PMI Indonesia disebabkan pelemahan yang terus berlanjut. Pesanan baru turun selama lima bulan berturut-turut, sementara lapangan kerja juga turun.
Hosanna menambahkan, impor masih akan sangat tinggi, namun perkiraannya tidak setinggi impor pada bulan Oktober.
Mengingat ini saat yang tepat untuk mempersiapkan tahun terakhir, tambahnya. (telur)