JAKARTA, ILLINI NEWS – Perekonomian Indonesia terimbas banyak permasalahan, seperti kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12% pada tahun depan dan terus merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Head of Compliance Bank Oke Indonesia (DNAR) Efdinal Alamsyah mengatakan dari sisi konsumen, kenaikan PPN akan menaikkan harga barang dan jasa sehingga membatasi sumber daya manusia terhadap barang. Hal ini dapat mengurangi kebutuhan kredit konsumen.
Kata Efdinal saat dihubungi ILLINI NEWS, Kamis (19/12/2024).
Selain itu, dia menambahkan, penguatan dolar AS dapat menambah beban harga impor bagi pelaku usaha.
“Perusahaan yang bergantung pada bahan baku bisa sangat berhati-hati dalam menggunakan kredit untuk ekspansi,” tutup Efdinal.
Tidak hanya dari segi pengajuan pinjaman, kenaikan PPN dan penurunan mata uang Garuda dapat menyebabkan kredit macet baik bagi perorangan maupun peminjam.
“Risiko ini meningkatkan tingkat kredit bermasalah (NPL). Proyek yang lebih bergantung pada ekspor atau terpapar dolar lebih rentan,” jelas Efdinal.
Senada, Direktur Utama Bank Jatim (BJTM) Busrul Iman mengatakan kedua tantangan tersebut berpotensi menurunkan daya beli nasabah yang kemudian meningkatkan risiko kredit bermasalah.
Selain itu, Busrul memastikan Bank Jatim juga akan terkena dampak kenaikan biaya akibat kenaikan PPN.
Kemudian, semakin tinggi biaya operasional seiring dengan kenaikan PPN, maka harga pokok barang dan jasa yang digunakan Bank Jatim akan meningkat, ”ujarnya saat dihubungi ILLINI NEWS, Kamis (19/12/2024).
Harga BPD juga berpeluang meningkat akibat kenaikan dolar AS yang akan mempengaruhi suku bunga internasional.
“Hal tersebut dapat meningkatkan nilai tunai Bank Jatim jika memiliki utang atau instrumen keuangan lainnya dalam dolar, dan dapat mempengaruhi kebijakan suku bunga Bank Indonesia,” kata Busrul.
Menghadapi risiko tersebut, katanya, Bank Jatim telah melakukan kajian internal dengan fokus pada banyak kebijakan pemerintah, mulai dari pendanaan elektronik selama 2 bulan, hingga layanan makan siang gratis.
Beberapa strategi yang dilakukan Bank Jatim antara lain mengedepankan manajemen risiko kredit. Untuk mencegah kenaikan beban operasional, bank akan fokus pada efisiensi operasional, seperti layanan digital, untuk meningkatkan pendapatan dan menekan biaya operasional.
Kemudian fokus pada distribusi manfaat pada kegiatan yang terkena dampak kegiatan pemerintah seperti kekurangan pangan, dengan memberikan kredit jangka pendek, untuk mengurangi apa yang tidak dapat dilakukan.
Berikutnya, meningkatkan pertumbuhan di pasar konsumen, terutama peningkatan kredit. Terakhir, mendorong dana pihak ketiga (DPK) dengan suku bunga rendah untuk menekan cost of money, merupakan praktik yang baik di sektor keuangan.
Terpisah, Vice President Consumer Credit BCA (BBCA) Welly Yandoko mengatakan secara spesifik kedua edisi ini akan bersaing memperebutkan produk pertama yang dijual pada tahun 2025.
“Persaingan ini diperkirakan terjadi dari dua sisi, dari sisi pengembang akan terjadi kenaikan harga properti karena bahan bangunan, disisi lain pasar sedang tidak menentu sehingga mempengaruhi daya beli masyarakat. “, ujarnya saat dihubungi ILLINI NEWS, Kamis (19/12/2024).
Namun, perusahaan swasta terbesar di Indonesia ini berharap dapat terus berkembang. Tentu saja, kata Welly, melalui kerja sama BCA dan seluruh penjualan, termasuk kantor BCA, pabrikan, hingga milik pribadi.
“Acara-acara seperti expo dan kegiatan menarik akan terus kami selenggarakan. Tentunya kami juga akan masuk ke semua segmen, mulai dari HNWI (High Networth Individual) hingga bisnis besar, baik yang baru pertama kali membeli rumah sekunder maupun sebaliknya, jadi semua orang. “Pelanggan yang membutuhkan uang bisa melakukannya,” katanya.
(mkh/mkh) Simak video di bawah ini: Video: Rupee Terus Melemah, Waspada Investor Tahun Depan PPN 12%, Ini Dampak Kata Bankir Syariah.