Jakarta, ILLINI NEWS – Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) merilis Survei Ekonomi OECD Indonesia 2024. Laporan rutin ini menyoroti dua tema besar, yakni transisi ramah lingkungan dan digitalisasi.
Survei Ekonomi OECD merupakan publikasi reguler utama OECD yang menyediakan dialog kebijakan mendalam antara OECD dan pembuat kebijakan senior dari negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia.
Laporan ini mencakup isu-isu makroekonomi, ketenagakerjaan, sosial, investasi, perdagangan, lingkungan hidup dan kebijakan lainnya. Dalam laporannya, OECD menyebut pertumbuhan Indonesia pulih pasca pandemi.
Meski demikian, OECD menekankan bahwa Indonesia tetap perlu berhati-hati dalam menentukan kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
“Dalam laporannya, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 mencapai 5,2% (yoy),” demikian rilis resmi Kementerian Keuangan yang dikutip Rabu (27/11/2024).
Selain itu, OECD memperkirakan Indonesia juga diperkirakan akan mampu menurunkan inflasi yang pada tahun 2022 mencapai 6% hingga mencapai 1,7% pada Oktober 2024.
Menteri Keuangan Sri Mulyani membenarkan hasil Survei Ekonomi Indonesia OECD 2024 menunjukkan Indonesia berhasil menjaga ketahanan perekonomian meski menghadapi ketidakpastian. Keberhasilannya tidak lepas dari kebijakan fiskal dan moneter yang hati-hati serta upaya terus menerus melakukan reformasi struktural.
Senada dengan hal tersebut, Sri Mulyani juga meyakini Indonesia mempunyai keinginan kuat untuk menjadi negara dengan status berpendapatan tinggi.
“Indonesia mempunyai visi untuk menjadi negara dengan status berpendapatan tinggi, lebih inklusif, dan tentunya memperkuat struktur perekonomian kita. Berbagai kebijakan yang diterapkan akan terus diperkuat, termasuk dalam hal ini penguatan struktur perekonomian melalui industri hilir, baik diantaranya terkait dengan kekuatan mineral strategis seperti tembaga dan nikel, serta sektor lain seperti produk pertanian yang menjadi prioritas Presiden,” kata Menkeu saat peluncuran hasil. survei OECD, Selasa (26/11/2024).
OECD juga menyebutkan pendapatan per kapita Indonesia meningkat tiga kali lipat dalam 25 tahun terakhir, sementara kemiskinan ekstrem mengalami penurunan.
Kebijakan pemerintah untuk memperluas akses terhadap pendidikan dasar membantu meningkatkan kualitas angkatan kerja, sementara penguatan kebijakan pendidikan kejuruan dapat meningkatkan keterampilan dan lebih mempersiapkan angkatan kerja untuk memasuki industri modern.
Selain itu, OECD menekankan bahwa kesempatan kerja bagi perempuan juga semakin meningkat sehingga mengurangi kesenjangan gender dalam angkatan kerja. Sejalan dengan upaya Pemerintah untuk mendorong investasi pada ekonomi digital, survei ini menyoroti peran ekonomi digital Indonesia sebagai pendorong utama pertumbuhan dan inklusivitas. E-commerce di Indonesia telah berkembang pesat, termasuk berkembangnya ekosistem digital dengan semakin banyaknya perusahaan startup.
Sementara itu, e-Government berkembang pesat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan mengurangi biaya operasional.
“Sebagai negara kepulauan yang besar, pembangunan infrastruktur fisik dan aksesibilitas teknologi digital serta konektivitas menjadi salah satu tantangan utama. Oleh karena itu, kami terus berinvestasi di bidang ini,” ujar Menkeu.
Terkait transisi ekologi, kebijakan Indonesia dalam upaya pensiun dini beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan peningkatan investasi pembangkit energi berkelanjutan menjadikan Indonesia salah satu pihak yang proaktif dalam aksi pengendalian iklim global, serta mencapai Net Zero Emissions. pada tahun 2060 atau lebih awal.
“Dalam transisi ekologi, kami menempatkannya sebagai salah satu prioritas, sebagaimana disampaikan dalam KTT Pemimpin G20. Kami tetap berkomitmen terhadap transisi ekologi di Indonesia, khususnya dalam pemilihan energi terbarukan,” kata Sri Mulyani. (haa/haa) Simak video berikut: OECD Prediksi Anggaran Pangan Gratis Bergizi Bakal Membengkak Artikel Berikutnya DPR Protes Sri Mulyani, Kinerja Ekonomi 10 Tahun Jokowi Tak Cukup!