Jakarta, ILLINI NEWS – Alfamart akan menutup 400 tokonya pada tahun 2024. Corporate Affairs Director PT Sumber Alfaria Triaya Tbk (Alfamart) Solihin mengatakan, penutupan toko tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya karena tidak menguntungkan. Solihin menjelaskan, toko-toko yang merugi tersebut antara lain disebabkan oleh biaya sewa yang semakin mahal, namun tidak diimbangi dengan pertumbuhan penjualan.
Penutupan 400 toko membuat masyarakat bertanya-tanya siapakah pendiri dan pemilik Alfamart? Rupanya pendiri dan pemilik Alfamart adalah Kwok Kwie Fo atau Djoko Susanto. Sukses berkat bantuan orang tua yang merawat stand
Awalnya, Djoko sama sekali tidak berniat berbisnis. Pada tahun 1966, setelah lulus SMA, Djoko Susanto memulai karirnya di sebuah perusahaan penyuntingan radio sebagai pegawai biasa.
Tetap saja, rasanya tidak seperti rumah di sana. Alhasil, Djoko memilih membantu usaha kelontong orangtuanya bernama Toko Sumber Bahagia di Petojo, Jakarta.
Sehari-harinya di sana, ia menjaga warung yang menjual kacang tanah, minyak sayur, sabun mandi, dan rokok dari pagi hingga malam. Seiring berjalannya waktu, warung tersebut hanya fokus menjual rokok dalam skala besar. Dan kebetulan partner utama dari stand Sumber Bahagia adalah Gudang Garam.
Di luar dugaan, penjualan di sana menunjukkan kinerja positif. Bahkan, tulis Sam Setyautama dalam Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (2008), pada tahun 1987 Djoko sudah memiliki jaringan 15 toko grosir dan terpilih sebagai penjual rokok Gudang Garam terbesar.
Dalam perjalanannya, kesuksesan Djoko dalam berjualan rokok menarik perhatian para petinggi PT HM Sampoerna, yakni Putera Sampoerna.
Pertemuannya dengan Putera Sampoerna, pimpinan PT HM Sampoerna pada akhir tahun 1986 benar-benar mengubah nasibnya. Beliau diangkat menjadi sales manager PT Sampoerna yang membawa PT HM Sampoerna menduduki peringkat kedua setelah Gudang Garam, tulis Sam Setyautama dalam bahasa Tionghoa. Angka di Indonesia (2008)
Kepiawaiannya dalam pemasaran rokok juga membuatnya mendapat kepercayaan dari Direktur PT Panarmas yang merupakan distributor rokok Sampoerna. Dalam posisi tersebut, Djoko pernah terlibat dalam pemasaran merek baru Sampoerna bernama Sampoerna A Mild pada tahun 1989.
Belakangan, rokok ini menjadi salah satu yang terpopuler di Indonesia. Saat memasarkan rokok barunya ini, Djoko mendirikan PT Alfa Retailindo pada tahun 1989 setelah berpindah gudang Sampoerna di Jl Lodan No. 80.
“Dengan modal Rp 2 miliar, gudang tersebut berubah menjadi gudang toko Rabat, dengan 40% saham dimiliki oleh Puetera Sampoerna dan sisanya oleh Kwok Kwie Fo (alias Djoko Susanto),” tulis Sam Setyautama.
Toko Gudang Rabat menjadi cikal bakal Alfa. Awalnya bergerak sebagai distributor rokok Sampoena baru, namun perlahan menjadi toko kelontong yang menjual berbagai jenis dagangan.
Toko Gudang Rabat kemudian berkembang besar dan memiliki banyak cabang di beberapa kota di Indonesia. Pada tahun 1990-an, Gudang Rabat menjadi pesaing ritel Indomaret yang didirikan oleh Salim Group dengan 32 toko.
Namanya kemudian diubah menjadi Alfa Minimart di bawah PT Sumber Alfaria Triyaja pada tanggal 18 Oktober 1999. Alfa Minimart mencoba mirip dengan Indomaret artinya minimarket yang bisa menjangkau dekat dengan masyarakat, dimana gedung pertama berlokasi di Jl. Beringin Raya,Tangerang.
Keberadaan Alfa Minimart mendapat respon positif dari masyarakat. Penjualan meningkat. Jocko langsung menjadi “tak terduga”.
Alfa diumumkan ke publik pada 18 Januari 2000. Saat itu nilai kapitalisasi Alfa diperkirakan mencapai US$108,29 juta, tulis buku Kaum Supertajir Indonesia (2008).
Mulai tanggal 1 Januari 2003, Alfa Minimart berubah menjadi Alfamart. Putera Sampoerna menyuntikkan modal dan Alfamart menjadi seperti sekarang ini.
Tokonya mencapai ribuan 3.000 toko. Setelah itu, Alfamart terus berkembang dan menjadi jaringan minimarket terbesar di Tanah Air. Berkat itu, Djoko semakin kaya raya. Pada tahun 2024, pria kelahiran 9 Februari 1950 ini masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan 4,2 miliar dolar atau 67 triliun lei. (mfa/mfa) Saksikan video di bawah ini: Video: Lirik produk perawatan rambut lokal Prospek bisnis go global